MENGAMATI JALANNYA PEMILU 2009 DAN PILKADA
Karena memang seperti yang juga saya yakini: kesederhanaan adalah kekuatan yang luar biasa.
Sederhana membuat kita fokus.
Sederhana membuat hidup kita lebih simpel.
Sederhana membuat hidup lebih seimbang.
Sederhana membuat tindakan kita lebih efektif dan efisien.
Sederhana membuat hidup anda lebih mudah.
Anda pun bisa mulai hidup yang sederhana namun luar biasa. Mulai dari pikiran anda detik ini juga. “Rapikan pikiran anda. Carut marut pikiran, urai dan aturlah kembali. Dan rasakan hasilnya. Anda akan bisa berpikir jauh lebih jelas!”
Kesederhanaan. Itulah kata kunci yang menjadi rahasia bisnis internet saya selama ini. Berkat kesederhanaannya, berkibar.
Mengapa kita harus membuatnya menjadi rumit bila yang sederhana terbukti berhasil? Bagaimana pendapat anda?
Dengan adanya pesta demokrasi yang dilaksanakkan pemerintah baik pilkada maupun pemilu merupakan wujud kebebasan berpendapat, adalah suatu kemajuan bangsa yang sebelum Reformasi hal ini tidak pernah terjadi. Dalam hal kebebasan negara kita boleh dikatakan ada kemajuan, Namun di sisi lain masih banyak kekurangan.
Contoh saja masalah pemilihan kepala Desa, Kebayan, Carik(SekDes), Modin (penghulu) atau Pamong Tani, di Kampung saya : Desa Tulas, Kec. Karangdowo, Kab. Klaten, Jateng. Dengan adanya pesta Demokrasi tersebut mengeluarkan biaya yang sangat banyak, waktu saya pulang kampung banyak orang-orang tua tetangga saya cerita, saya milih “A” dapat uang Rp.25.000 dan masih banyak cerita yang lain, baik yang terpilih maupun yang gak trerpilih, hal ini juga bukan rahasia umum lagi masalah suara harus dibeli dengan uang.
Begitu juga Pilkada bagi ini dan itu dan juga tidak terlepas dari uang, itupun juga bukan rahasia umum lagi, dan tanggal 09 April 2009 pesta besar2an dengan biaya yang sangat besar baik dari pemerintah maupun Caleg. Ada kawan kerja cerita :”kamta banyak caleg datang ke Rumah saya dengan membawa kartu nama dan membagi uang ya saya terima saja karena suara juga harus dibeli dengan uang karena anggota dewan setelah jadi gak pernah mikirin rakyat hanya mikirin bagaimana korupsi”. hal itu juga gak aku pikirin eh sampai di rumah ada isu2 bahwa Caleg2 bagi2 uang, saya pikir Indonesia semakin pintar dalam hal money Politik. Hal ini juga bukan hal yang baru atau bukan rahasia umum lagi.
Kalau ditempat tinggalku sekarang, rata2 orang berduit dan rata2 kerja di BP Cevron atau boleh dikata orang pekerja semua itu saja suara bisa dibeli hanya uang Rp.20.000 sampai Rp100.000, apalagi di kampung2 seperti kampung saya, sangat mudah sekali karena memang hidup berkekurangan.
Dengan adanya money politic masyarakat juga memilihh uang, siapa yang kasih uang dia juga yang ia pilih (contreng), tanpa ada pikiran yang saya pilih itu kerjanya apa waktu sidang, jangankan orang tua pemuda di tingkat SLTA juga memilih uang bisa untuk jajan dari pada ediologi. Sekarang kita harus berfikir siapa sih sebenarnya yang untung? Tidak ada yang lain kecuali caleg yang terpilih, adapun uang Rp.50.000 hanya sehari dipakai sedangkan Caleg yang terpilih selama 5 thn bergelimang dengan uang, Saya dapat E-mail dari kawan bahwa gaji anggota Dewan setahun dihitung semuanya 600 juta, walah2, itupun kalau bersih tapi kalau korupsi masyaAlloh.
Sekarang saya berfikir lagi, keadaan seperti ini sampai kapan ya? Karena pengalaman yang saya alami dari kecil sampai sekarang saya sudah berumur 42 th budaya pemilihan kepala Desa di kampung saya , membeli suara gak pernah hilang, kalau ada calon yang gak mau beli suara gak pernah terpilih.
Dengan menyaksikan hal2 semacam itu saya hanya bisa berdo’a Ya Alloh Semoga Engkau ampuni mereka dan jangan Engkau timpakan musibah apapun kepada bangsa dan negaraku tercinta dengan murkamu, karena mereka tidak tahu lagi apa itu demokrasi, kalau boleh memilih saya memilih negara ini dipimpin oleh raja yang Soleh. Gak ada pemilu gak ada pilkada jadi biaya pesta Demokrasi bisa digunakan untuk membangun bangsa dan negara ini.
Harapan saya kedepan saya mengajak kepada seluruh elemen masyarakat supaya berfikir kedepan bangsa dan negara ini akan dibawa pemimpin kita kemana? dan siapa yang akan kita pilih jadi pemimpin mereka yang kasih uang atau mereka yang mempunyai jiwa memimpin dan membawa bangsa dan negara ini lebih maju.
Saya masih terngiang Pemilihan Presiden di Amerika, dulu banyak yang memprediksi kalau Barak obama yang kulit hitam pertama jadi presiden akan tertembak mati, waktu itu saya yakin tidak akan terjadi, kalau terjadi berarti AS akan jatuh di mata dunia. Rakyat Amerika lebih memilih calon presiden yang akan membawa kemajuan.
Dengan menyaksikan pesta Demokrasi yang ada di Negri ini saya hanya bisa berdo’a Semoga Alloh memberikan kesadaran kepada calon Pemimpin dan Rakyat Indonesia untuk membangun bangsa dan Negara ini supaya menjadi Negara: Baldatun Thoyibatun WaRobbun Ghofur. Jangan sampai terjadi lagi Rakyat yang selama ini menginginkan kebaikan tapi dipancing uang oleh Calon pemimpin dan semoga Pemilihan Presiden nanti akan lebih baik dari pemilihanan2 sebelumnya.
Kawan-kawaku semua ex SMEA N PEDAN LULUSAN th 85/86 saya Kamto ingin sekali bertemu teman-teman angkatan 85/86 terutama jurusan TATA BUKU
karena sudah 24th setelah kita perpisahan tidak pernah bertemu, hanya lebaran th2007 ada reuni itupun yang bisa datang hanya : Sasmedi, Pardi, Eni, Harni, Harini,Jamil, Rohmadi, dan saya sendiri yang lainnya ada diperantauan semua dan tidak mudik.
Dengan blog ini saya datang, bagi yang membaca blog ini tolong sampaikan lewat sms kalau bisa dikirimkan foto baik sendiri maupun bersama keluarga, lewat e-mail ke alamat e-mail saya : kam.kamta@yahoo.co.id untuk bisa saya kumpulkan dan saya uploud supaya teman-teman yang lain bisa melihatnya dan ingat masa – masa kita di SMEA dahulu. Untuk sdr Jamil yang ada di kampung tolong minta foto sama Harini sewaktu Reuni kemarin, biar saya tampilkan di blog saya. Bagi teman-teman yang di perantauan kalau mau melihat sekolahan kita dulu ini saya tampilkan cuma namanya sekarang sudah ganti SMK N I PEDAN, sudah bagus lho gedungnya sekarang tidak seperti waktu kita sekolah dulu Terima kasih.
Tidak Ada Waktu Istirahat untuk Tubuh Letih Rasulullah
Oleh: KAMTA
dakwatuna.com - Madinah dikepung tentara gabungan kabilah-kabilah Arab. Kabilah Quraisy beraliansi dengan kabilah Ghathfan, kabilah Asad, kabilah Asyja’, kabilah Salim, dan kabilah Murrah. Pasukan sekutu (Ahzab) ini ingin memukul kekuatan kaum muslimin Madinah dengan satu serangan yang menghancurkan untuk selama-lamanya.
Pada tanggal 8 Dzulqa’idah 5 Hijriah atau sekitar April 627 Masehi, tentara Ahzab itu mendekati Kota Madinah. Gerakan mereka terhenti karena di celah antara dua gunung yang menjadi pintu masuk Madinah telah menganga parit pertahanan yang tidak bisa dilompati kuda-kuda mereka.
Perang pun berubah menjadi perang adu daya tahan. Pasukan aliansi musyrikin Arab mengepung Madinah. Tentara Rasulullah saw., kaum muslimin, bertahan di belakang garis parit (Khandaq) yang mereka bangun. Lima belas hari lamanya perang daya tahan ini berlangsung. Sepuluh ribu tentara musyrikin Arab menunggu-nunggu kelengahan tiga ribu tentara muslimin di balik parit pertahanan mereka. Mereka secara berkala menggempur titik-titik pertahanan yang terlihat lemah.
Parit. Ini teknik perang gaya baru bagi dunia Arab saat itu. Salman Al-Farisi yang mengusulkan teknik perang bertahan itu. Tapi, membangun parit pertahanan yang lebar, panjang, dan dalam bukan perkara mudah. Berat. Melelahkan. Apalagi waktunya pendek. Harus sudah selesai sebelum pasukan musuh tiba.
Rasulullah saw. memimpin langsung penggalian parit itu. Seluruh penduduk Madinah dikerahkan. Rasulullah saw. membangun parit di sebelah Utara kota Madinah di antara dua pegunungan batu yang membentengi Madinah hampir di segala sisi, kecuali di bagian Tenggara kota. Rasulullah saw. sengaja tidak menggali parit di bagian ini. Itu pintu masuk Yahudi Bani Quraizhah ke kota Madinah.
Rasulullah saw. memang telah memperkirakan Bani Quraizhah suatu saat akan berkhianat. Namun Rasulullah saw. tetap berprasangka baik dan berpegang teguh pada Piagam Madinah yang ikut disepakati Bani Quraizhah. Dalam piagam itu, pihak-pihak yang membuat perjanjian sepakat untuk bahu-membahu mempertahankan kota Madinah dari serangan luar. Namun kemudian yang terjadi sebaliknya. Di perang ini Bani Quraizhah berkhianat.
Duh, sungguh berat sekali perang yang harus dihadapi Rasulullah saw. kali ini. Musuh ada di dua front. Tenaga dan pikiran Rasulullah saw. pasti terkuras habis. Al-Waqidi menggambarkan betapa lelahnya Rasulullah saw. Ia mendapat sanad yang berujung kepada Abu Waqid Al-Laitsi, seorang sahabat yang ikut dalam Perang Khandaq.
Abu Waqid Al-Laitsi bercerita, “Pada hari itu, kaum muslimin berjumlah tiga ribu orang. Aku melihat Rasulullah saw. sekali-kali menggali tanah dengan menggunakan cangkul, ikut menggali tanah dengan menggunakan sekop, serta ikut memikul keranjang yang diisi tanah. Suatu siang, sungguh aku melihat beliau dalam keadaan sangat lelah. Beliau lalu duduk dan menyandarkan bagian rusuk kirinya pada sebuah batu, kemudian tertidur. Aku melihat Abu Bakar dan Umar berdiri di belakang kepalanya menghadap orang-orang yang lewat agar mereka tidak mengganggu beliau yang sedang tidur. Pada waktu itu aku dekat pada beliau. Beliau kaget dan bangun terperanjat dari tidurnya, lalu berkata, ‘Mengapa kalian tidak membangunkan aku?’ Kemudian beliau mengambil kapak yang akan beliau gunakan untuk mencangkul, lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah, ya Tuhanku, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Maka, muliakanlah kaum Anshar dan wanita yang hijrah.’”
Tampaknya perang memang tidak mengizinkan Rasulullah saw. beristirahat. Ummu Salamah, istri Rasulullah, yang ikut berkemah di Markas Komando di Gunung Salah’, nama gunung di sebelah Utara Madinah, bercerita, “Demi Allah, aku berada di tengah kelamnya malam di kemah Rasulullah saw. Beliau sedang tidur sampai aku mendengar suara yang mengejutkan. Aku mendengar orang berteriak, ‘Yaa khailallah (wahai pasukan kuda Allah)! Rasulullah saw. menjadikan sebutan itu sebagai syiar panggilan Muhajirin: Ya kahilallah! Rasulullah saw. pun kaget mendengar suara orang itu, kemudian beliau keluar dari kemahnya.
Tiba-tiba ada sekelompok orang berjaga di depan kemah beliau. Salah seorang di antara mereka itu adalah Abbad bin Basyar. Beliau bertanya, ‘Ada apa dengan orang-orang?’ Abbad menjawab, ‘Ya Rasulullah, itu suara Umar bin Khaththab, malam ini gilirannya berseru, Ya khailallah.’ Orang-orang berkumpul kepadanya mengarah pada sebuah tempat di Madinah bernama Hunaikah di antara Dzahhab dan Masjid Al-Fath. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Abbad bin Basyar, ‘Pergilah ke sana dan lihat, kemudian kembali lagi kepadaku, insya Allah, dan ceritakan keadaan yang terjadi di sana!’”
Ummu Salamah berkata, “Aku berdiri di dekat pintu kemah mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Rasulullah saw. terus berdiri hingga Abbad bin Basyar datang, lalu ia berkata, ‘Ya Rasulullah, itu Amar bin Abd di kuda kaum musyrikin, ikut bersamanya Mas’ud bin Rujanah bin Raits bin Ghathfan di kuda Ghathfan, dan kaum muslimin melemparnya dengan lembing dan batu.’”
Ummu Salamah kemudian berkata, “Lalu Rasulullah saw. masuk ke dalam kemah dan memakai baju perangnya, kemudian beliau menunggang kuda perangnya diikuti para sahabatnya hingga sampai di tempat peperangan. Tidak lama setelah itu, beliau datang dalam keadaan gembira dan berkata, ‘Allah telah memalingkan mereka dan mereka banyak yang cidera.’”
Ummu Salamah berkata, “Setelah itu beliau tidur hingga aku mendengarkan suara dengkurannya. Aku mendengar pula suara lain yang mengejutkan, maka beliau terperanjat kaget dan memanggil dengan suara keras, ‘Ya Abbad bin Basyar!’ Abbad menjawab, ‘Labbaik (aku menyambut seruanmu)! Beliau berkata, ‘Lihat apa itu!’ Abbad bin Basyar pun langsung pergi, kemudian kembali dan berkata, ‘Itu Dharar bin Al-Khaththab ikut dalam pasukan berkuda kaum musyrikin dan ikut bersamanya Uyainah bin Hishn pada pasukan berkuda Ghathfan di Gunung Bani Ubaid. Kaum muslimin melempari mereka dengan batu dan lembing.’ Maka Rasulullah saw. berdiri memakai baju perangnya dan menunggang kudanya, kemudian berangkat dengan para sahabatnya menuju tempat peperangan tersebut. Beliau tidak kembali kepada kami hinggga menjelang waktu subuh. Setelah datang beliau berkata, ‘Mereka kembali dalam keadaan kalah dan banyak di antara mereka yang cidera.’ Kemudian beliau shalat subuh dengan para sahabatnya.
Ummu Salamah juga berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah saw. menyaksikan peperangan yang di dalamnya banyak yang terbunuh dan menakutkan, yaitu Al-Muraisi’ dan Khaibar. Kami pun pernah ikut dalam peperangan Hudaibiyah. Dalam peperangan Fathu Mekkah dan Hunain, tidak ada yang lebih melelahkan bagi Rasulullah saw. dan tidak pula yang lebih menakutkan bagi kami daripada peperangan Khandaq, karena pada waktu itu kaum muslimin menghadapi semacam kesulitan dan Bani Quraizhah tidak bisa kami amankan terhadap Adz-Dzraari. Madinah dijaga hingga pagi. Takbir kaum muslimin terdengar hingga pagi karena gentingnya dan mereka tidak memperoleh keberuntungan apa pun. Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan dan Allah-lah yang mengirimkan angin dan malaikat kepada mereka. Sesungguhnya, Allah Mahakuat dan Maha Perkasa.”
Duh, sungguh peperangan di Perang Khandaq menguras tenaga Rasulullah saw. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku melihat Sa’ad bin Abi Waqqash di suatu malam, sedang kami berada di Khandaq, menyaksikan . Dan aku masih benar-benar menyukai tempat itu.”
Aisyah berkata, “Rasulullah saw. selalu pergi menjaga lubang di Khandaq sehingga apabila beliau kedinginan, beliau datang kepadaku. Lalu aku hangatkan dalam pelukanku. Apabila beliau telah hangat, beliau keluar lagi menjaga lubang itu. Beliau berkata, ‘Aku tidak khawatir terhadap kedatangan orang-orang (musuh), tetapi aku khawatir mereka datang sementara aku tidak berada di lubang itu.’ Setelah Rasulullah saw. berada dalam pelukanku dan telah hangat, beliua berkata, ‘Andainya ada orang yang saleh menjagaku.’”
Aisyah berkata, “Hingga aku mendengar suara sejata dan bunyi gesekan pedang.” Lalu Rasulullah saw. berkata, “Siapa itu?” “Sa’ad bin Abi Waqqash.” Beliau berkata, “Jagalah lubang itu.” Aisyah berkata, “Rasulullah saw. lalu tertidur hingga aku mendengar dengkurannya.”
Hari demi hari berlalu. Pengepungan masih berlanjut. Angin dingin bertiup kencang. Medan perang semakin berat. Apalagi untuk pria paruh baya seperti Rasulullah saw. Dalam usia 57 tahun, tubuh Rasulullah saw. harus selalu siap siaga berjaga dan siap berperang setiap waktu. Beliau selalu bergerak cepat dari satu titik pertahanan ke titik pertahanan lain yang mendapat gempuran musuh. Serangan itu terjadi kapan pun tak kenal waktu. Siang dan malam. Rasulullah saw. hampir-hampir tidak bisa tidur selama peperangan berkecamuk. Rasulullah saw. adalah manusia biasa. Tubuhnya lelah. Kelelahan yang tiada tara. Tidak ada waktu istirahat untuk Rasulullah saw.
Ditulis oleh k4mta 




